Selasa, 16 November 2010


Ini adalah hari Raya Idul Adha pertama di P. Bintan……. Tempat baru dan tentunya suasana baru. Masih sendiri disini…… cinta dan jagoan masih tinggal di Jakarta. Bakalan sepi hari raya ini….. tanpa lontong Medan yang bisa dikomsumsi sampai 3 hari berturut-turut tanpa bosan.

Sore sesampai di rumah sepulang kerja, aku sempatkan ke warung sebelah rumah untuk membeli makanan kecil untuk nanti malam. Selesai bayar……… tetanggaku pemilik warung itu langsung menyodorkan “kupon qurban untukku”.
“ ….Mas…… (emang wajahku kentara ya Jawanya?)…….. ini kupon qurban, dari pak RT…….”
“Untukku……..?”. Sedikit kaget….. bukan kah aku ikut qurban dengan keluarga besar di Bandung dan bukan disini…..…..bisikku dalam hatiku…..
“Iya…… kan udah terdaftar di RT sini?” jawabnya taktis
“Semua warga sini di bagi…… tempat pemotongan nya saja didepan situ”……. Sambil menunjuk arah tempat qurban besok yang hanya berjarak 50 meter.
Saya sempat berfikir sebentar…… apa pantas saya menerimanya? Apa pantas warga perumahan tempatku tinggal menerimanya?........ bukankah mereka sama dengan ku ada yang pegawai negeri dan swasta…… ?

Toh yang saya tau yang berhak menerima qurban adalah fakir miskin atau kaum dhuafa , orang yang berqurban dan panitia. Aku ingat waktu masih kuliah dan aktif di remaja mesjid di Medan aku mendapat bagian daging qurban karena menjadi panitia qurban……. Tapi setelah ikut memotong-motong daging, menimbang dan membagi-bagi daging, isi perut dan tulang tiap kantungnya sebesar 1,6 kg/bungkus dari pagi sampai sore…..…… malah membuatku untuk beberapa minggu…. gak doyan makan daging……….. euneg …..kalau melihat daging sapi. Aku juga menerima daging qurban karena menjadi shohibul qurban. Tapi kali ini……………….???

“Begini aja pak” jawabku…….. “Bisa gak…… kupon ini di berikan ke orang yang lebih berhak…….. terserah ke siapa…….. yang dirasa layak… karena saya kurang tau daerah sini dan dimana mendapatkan orang yang lebih ber hak”.
“Gimana kalau tetap kita ambil……. Entar saya masakan….. trus saya anter kerumah mas”
“Gak usah pak…….. “ jawabku. “ Tolong ya…… pak…… kasih buat yang berhak………” kataku berulang kali dan sambil berlalu……. Dan kulihat tetanggaku mengangguk….. dengan sedikit bengong.
Sesampai dirumah…… aku mulai bertanya?....... atau emang status ku sudah termasuk fakir miskin ????........ Ah ………. coba buka buku ………

Qurban hukumnya sunah bagi yang tidak mampu dan wajib bagi yang mampu. Dalam QS Al-Kautsar 1-2 disebutkan bahwa qurban dianggap “sejajar” dengan sholat. Apabila kita sudah diberi nikmat (mampu) kita diperintahkan untuk berqurban. Selain itu, nadzar untuk berqurban juga bisa menjadikan qurban sebagai wajib walaupun sebenarnya belum bisa dikatakan mampu

Definisi mampu (menurut fiqih): Islam, Berakal sehat, Baligh
Mampu juga berarti berpenghasilan setahun senisab 93,6 gram emas
Terus aku hitung pakai kalkulator di hape:

93.6gram emas x @Rp 390.020,-/gram(harga emas saat ini)
= Rp. 36.50.5872,- setahun ( Rp. 3.042.156,-/bulan )
belum termasuk bonus dan THR lho….


Terus ……….?....... atau masyarakat Indonesia sudah lebih makmur…… sehingga sudah tidak ada lagi fakir miskin yang bisa di beri daging qurban………………. Tapi diberita tadi sore masih kulihat di beberapa daerah….. yang sudah melaksanakan sholat eid…….. dan mengadakan pemotongan hewan qurban …….. masih banyak warga yang berebut mengambil daging qurban seperti korban gempa Mentawai lari kegirangan didrop bantuan dari helicopter ……. dan meminta ke panitia setempat buat mereka yang tidak memiliki kupon……. bahkan dengan sedikit memelas dan memaksa. Padahal mereka ada yang datang dengan sepeda motor dan emas yang melilit pergelangannya seperti took emas berjalan. Atau qurban sudah berubah menjadi “pesta nasional makan daging gratis setiap tahunnya”……. ? Atau bangsa yang terkenal dengan pasukan berani mati saat perjuangaan dulu sudah berubah menjadi “pasukan berani malu”?

Aku percaya semua peserta qurban melakukan perintah Allah ini secara iklas…….. tapi kalau lah didepan mata peserta qurban melihat yang mendapat bagian qurban bukan termasuk ketiga katagori tersebut…………….….. dan bisa jadi secara ekonomi lebih baik…….……… gimana??? Terserah hati masing-masing…. jawab sendiri lah………….. karena iklas itu sangat tipis buat kita sebagai manusia biasa.

Atau tergantung daerah masing-masing….. bisa jadi daerah tempat tinggal ku dulu dan sekarang jumlah fakir miskinnya jauh lebih sedikit dari jumlah yang ber-qurban…….. jadi panitia kesulitan untuk membaginya….. dari pada daging yang di qurban tidak tau mau di kemanakan….. ya siapa aja di bagi…. Yang penting habis neh…kupon……toh peserta qurban iklas ……Lillahitaalla……... semoga intinya…. Bangsa ini sudah lebih makmur……… Setuju…….?!

Makanya ide dan solusi yang ditawarkan Rumah Zakat Indonesia sungguh menarik hati……. Pengalengan menjadi kornet daging yang dipilih sejak 8 tahun yang lalu yang dimaksudkan sebagai cadangan makanan bergizi untuk masyarakat, khususnya ke tempat-tempat bencana alam…….. atau bagi fakir miskin bisa di nikmati lebih lama…….. tidak hanya selama beberapa hari makan daging….…. Karena umunya fakir miskin tidak punya kulkas untuk menyimpan daging lebih lama…….. Bahkan di salah satu TV tempo hari saat wawancara, Rumah Zakat Indonesia bisa melayani bila kita memesan qurban kita tersebut untuk daerah dimana kita mau…… seperti di daerah Merapi yang sedang membutuhkan. Ini bukan promosi…….

Kalau soal hukumnya………. Mereka tentunya lebih tahu.

Semoga ini bisa menjadi pemikiran kita dan para panitia qurban yang didaerahnya fakir miskinnya sedikit dan peserta qurbannya jauh lebih banyak.

Allahuakbar…….3x …….. walillah….. illham.
Selamat Hari Raya Idul Adha 1431H
Insyaallah……. tahun depan….atau tahun depannya lagi…… berqurban di Mekah.


Salam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar