Senin, 01 November 2010

Bersama “SUPERTEAM” mewujutkan janji

Entah mengapa setiap melihat beberapa anak-anak bermain sepakbola didaerahku dulu (Jambi) hatiku seperti miris dan tertantang untuk berbuat sesuatu untuk mereka. Aku merasa begitu tak adilnya kesempatan bermain bola pada diriku dan pada mereka ketika masih kecil. Aku selalu teringat betapa kesempatan bermain sepak bola pada diriku begitu luasnya, Lapangn sepak bola Pertamina Rantau di Aceh cukup hanya dengan membuka jendela kamarku bisa langgsung terlihat. Belum lagi halaman-halaman sekitar perumahan kami dulu yang begitu luasnya sehinnga cukup untuk mengandakan pertandingan sepak bola 15 lawan 15 orang. Belum lagi setiap tahunnya selalu diadakan turnamen antar RT yang begitu membuat adrinalin meninggkat…saatnya menunjukan keahlian hasil latih tanding saban sore sampai gelap atau sampai di jemput ayah sambil melotot karena tak dengar suara azan magrib di samping bangsal (rumah karyawan Pertamina yang bertingkat dua sebanyak 8 pintu)
Setelah dewasa aku bekerja dan tinggal di Tebing Tinggi Tanjung Jabung Jambi. Daerah kami memang jauh dari kota, kami harus menempuh 2,5 jam untuk mencapai kota Jambi. Tapi daerah kami bukan lah daerah yang terpencil seperti desa-desa pada umumnya di Indonesia, karena daerah ini adalah kawasan industri bubur kertas yang berlokasi di tengah HTI (Hutan Tananaman Industri)
 Namun mengapa di daerah kami tinggal tidak ada lapangan sepak bola? Kalaupun ada lumayan jauh buat anak-anak seusai mereka. Terketuk hati ini untuk menyediakan lapangan sepak bola walau hanya cukup untuk bermain 7 lawan 7 orang saja tapi lengkap dengan gawang jaring dan rumput hijaunya. Serta turnemen buat mereka sebagai barometer dan ujian setelah setiap hari berlatih dipinggir jalan. Ya….aku berjanji dalam hati harus buat sesuatu untuk kalian!
 Janji itu terus membebaniku…setiap olah raga pagi sebelum pergi bekerja, aku selalu mencari lokasi mana yang bisa dijadikan lapangan bola untuk anak-anak…timbang sana-timbang sini….akhirnya……dapat! Ya…lapangan terlantar yang becek, berlumpur dan semak karena rumput yang tidak dirawat. Walau berat juga nih dalam hati untuk memperbaikinya dan tentu saja izin mengunakan lahan ini dari kepala dusun karena ditempat tinggal ini walau ada kepala dusun tapi otoritas tetap pada management pabrik kertas. Ah…terserahlah apa yang akan terjadi…kalau tidak dicoba mana bisa mimpi dan janji ini terwujut…
Saat istirahat dikantor atau saat ketemu temen-temen diluar jam kerja, sering aku utarakan keinginainan dan harapan ini keteman-teman…ya seperti biasa, ada yang cuek, ada yang pesimis dan ada yang mendukung. Ok…solusi yang paling gampang!....ajak para maniak sepok bola dikantor! Dijamin punya mimpi dan harapan yang sama!
Dapatlah nama-nama yang bersedia bergabung:  Mulato, Botaks, Lambe, Buluk, One, Bandul, Ipul. Inila para punggawa gila bola kantor kami…..dibawah satu nama EID (Electric Instrument Department).
Dengan kasak kusuk sana sini…akhirnya izin didapat, walau itu lahan bakalan digusur karena akan dibangun ruko lagi……itu gak penting…yang penting rintis dan jalankan dulu…halangan soal nanti….
Gimana dengan lapangan yang bopeng-bopeng dan berlumpur?......ternyata gampang….uruk! pake apa…mudah saja….pake pasir dari pasir yang gak lolos QC untuk boiler…dengan sedikit rayuan…..akhirnya satu truk pasir nyampe di dekat lapangan…..perkara nguruk….jangan khawatir…setiap pulang kerja sore kami langsung bergotong royong. Cukup sediakan makanan kecil hasil kreasi istri tercinta, jangankan para SUPERTEM yang kerja…yang diluar itupun siap membantu. Belum lagi semangat anak-anak membantu mengangkut pasir, menimbun lubang, menyumbat kubangan, sampai membuang bekas-bekas pecahan botor minuman yang berserakan..dan kaleng-kaleng berkarat yang siap memangsa tapak kaki yang telanjang alias “kaki ayam”.
Perbaikan lapangan terus berjalan….Mulato sibuk dengan urusan lobi tiang gawang…ini memang jagonya Mulato. Untuk jaring gawang?.......ah…..banyak jaring rusak bekas practice golf. Disana sudah terbuang-buang…..kita sangan butuh……Mulato….ayo lobi…….akhirnya gawang dan jaring nyampe di lapangan dengan selamat. Tapi gawang yang datang masih berwarna merah cat mani (cat anti karat…)…kok rasanya gak cocok ya….entar ada alasan susah nyetak goal karena gawangnya gak warna putih seperti lazimnya. Ah..ngapai susah…serahkan ke si Botak aja…..terserah dia mau ambil cat dari mana……terus jangan lupa …..pesanku untuknya satu lagi!. Tolong sediakan kapur untuk garis…karena aku yakin untuk kapur…mudah saja dipabrik yang banyak kapurnya untuk produksi. Gak perlu aku tau gimana caranya……Botak sudah datang dengan 2 pesananku itu…salut……
Semua bahan sudah tersedia….hasil ukur sana sini denga Bandul, dapat gambaran lapangan cuma cukup untuk panjang 65 meter dengan lebar 30 meter! Gawang?...gawang dibuat 170 tinggi dengan lebar 3 meter. It’s Ok…no problem….sudah cukup untuk pertandinagn 7 lawan 7!                                                           
Lambe, Buluk, One, Ipul…..ah…itu mah urusan kecil buat mereka mengartikan gambar rencana ukuran yang ada di atas kertas yang aku bawa dari kantor ke lapangan sesungguhnya. Target selesai untuk lapangan bola yang kami rencananya 2 minggu…putus hanya dalam 1 minggu! Luar biasa!......makanya ini lah SUPER TEAM ku!
Terharu rasanya….melihat lapangan sudah selesai bahkan diluar perhitunganku hasilnya….lapangan yang rata, rumput yang bagus walau belum semua sisi terisi rumput ibarat lapangan bola yang bermotif kotak-kotak karena teknik pemotongan rumputnya, garis putih yang lurus seolah ditarik dengan ujung pena, gawang berwarna putih lengkap dengan jaringnya layaknya OLD TRAFORD……Theater of Dream. Makanya karena kesempurnaan dan keindahannya….makanya kami memberi kan nama lapangan bola ini……..PANGGUNG IMPIAN……ya…impian buat anak-anak menyalurkan bakat bolanya seperti janjiku dulu.
Ups….stop dulu terkagum dengan “Panggung Impian”……biarkan para SUPER TEAM mencicipi hasil jerih payahnya…satu kali saja…ya…kami main bola disitu…sambil tertawa gembira……..ha..ha…xi…xi….ya….bolanya masuk parit……
Terima kasih para anggota SUPER TEAM. jangan kuatir cerita masi berlanjut
(bersambung)

Salam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar